Cerita Malam Pertama Hari Pernikahan




Tak ingin hanya bermodal sebatang badan ibarat raja sehari, Asni memikirkan pendirian mudahmudahan jadi calon istri gelap yang “dihitung”. Sudah lalu kapalan ia mendapati pemandangan mengenaskan: istri tanpa pekerjaan yang dilecehkan suami di kampungnya di Lubukdian sana, tercatat perlakuan bagi gadis favorit pengantin nan menerima belaka semua antaran raja sehari adam sehingga pihak lanang berkuasa penuh atasnya, tercatat … kacau-balaunya kondominium jenjang Mak nan yunior berjauhan ketika suaminya meninggal intern sebuah kecelakaan panca tahun lalu.

Maka, begitu mengait rahmat dengan Jamal, anak kepala desa Lubukdian dan kontak mereka makin khusyuk, gadis dua desimal dua waktu itu tidak ingin mengamini pinangan tanpa segram kencana pun di tangan.

Orangtuanya memang telah membenari Asni untuk bekerja saja di desa, membantunya menyadap karet ataupun menanam pari darat, tapi gadis itu tak terkesan. Kalau masih di dusun, bakal sama semata-mata, pikirnya. Berbekal ijazah SMK Jurusan Menjahit, dara berbulu sebahu itu menitipkan surat lamaran kerja habis Intan, sahabatnya yang telah lama bekerja di sebuah pabrik tekstil. Seperti itu kabar baik ia terima, dua minggu kemudian, tanpa bisa dicegah, Asni ke Jakarta. “Aku tidak ingin kehormatanku ditakar maka itu pembawaan dayang dan keris malam mempelai!” Sebagai orang sedusun, Asni tahu kalau Intan mengerti ke mana pembukaan-katanya diarahkan.

2

Di kota, Asni menumpang tinggal di kosan Intan. Ia mulai terbiasa mandi sekali sehari karena harga air lebih mahal daripada bedaknya. Asni sempat mengeluh, tapi bulatnya tekad mengalahkan segalanya. Bawaannya yang masih asli sering menjadi candaan kebalikan-teman di pabrik. Suatu sore, di jam pulang buruh, Bang Heri, mandor yang sering dihindari pegawai perempuan, memanggil Asni ke pakus. “Sebagai pegawai baru, kau harus lewat waktu hingga pukul delapan sekali sepekan. Jangan banyak protes kalau masih ingin cari makan di sini!”

Asni menurut saja. Dilawannya rasa letih yang mulai melanda, Asni menyisip abstrak-pola nan menjadi tanggungannya jemah. Semuanya menjadi neraka saat lampu mati mulai-tiba.

3

Ketika siuman, Asni, nan sudah berharta di kosan Intan, meraung sehebat-hebatnya. Intan memeluknya. Sambil mengusap air netra, Intan memintanya menyimpan semuanya. “Aku sudah punya firasat, nggak enak malam ini, lebih lagi ketika mandor indra penglihatan keranjang itu mengantarmu pulang pukul dua tadi dalam keadaan pingsan. Tapi … kita turunan mungil boleh apa?” Air indra penglihatan Intan menetes.

Asni tertegun. Setakat Intan menutup gapura, ia mangut apa yang harus dilakukannya. Berkarya ataupun pun ke kampung mengirimkan aib? Dering ponsel gebah lamunannya.

Jamal.

Bagaimana ini?
Ia abaikan panggilan itu.

Sebuah pesan turut.

Hatinya berpendar. Dibolak-baliknya ponsel, seakan-akan itu akan membantunya menemukan urut-urutan keluar.

Di mana, Dek? Mbuk rindu.

4

Selayaknya Asni tidak kepingin membagi luang barang siapa tentang kepulangannya, termasuk orangtua dan Jamal. Manah cemas dan berdiri merayapinya. Karena itu pula, tak sekalipun telepon orangtua dan Jamal yang dijawabnya.

“Kalau Adek tidak ingin menjawab telepon ini, Kakak akan menyusul ke Jakarta, sekarang juga,” begitu bunyi pesan suara yang dikirimkan kekasihnya itu.

Perasaan Asni makin tak keruan.

Ia memilih serah.

Tinimbang Jamal bertambah marah karena lain mendapatinya di Jakarta nanti, begitu ponselnya berdering, dia pun mengatakan
halo. “Asni sedang di bus dalam pengelanaan pulang, Kak,” katanya seperti bergumam.

Di seberang, Jamal bersorai seperti anak asuh kecil. “Sudah, sudah,” suaranya terdengar riang, “ceritanya nanti takdirnya sudah lalu di flat saja. Pokoknya Adek cepat pulang!”

 Asni sungguh matikata saat kekasihnya justru tak ingin mendengar cerita panjang lebarnya, seakan-akan ia sedang membawa buntalan maklumat gembira ke Lubukdian.

Perjalanan yang memakan waktu damping dua belas jam membuat Asni merasa payah. Ia sampai di rumah ketika menjelang pemukul sepuluh malam. Tenda dan janur kuning di halaman rumah membuatnya kekurangan kata-introduksi. Mengintai Asni, Mak refleks memeluk gadis semata wayangnya dan mengajaknya meluluk kamar pengantinnya. Sebuah ranjang mutakadim dihiasi kelambu suci dengan bunga plastik di tiap sisinya. Asni menangis. Mak juga memeluknya. Asni menghapus air matanya, dan mengajak Mak bicara. Tapi perempuan itu justru meminta Asni segera beristirahat.

Setelah Mak pergi, Asni menangis sekeras-kerasnya. Ditelungkupnya paras ke bantal agar enggak terdengar hingga ke luar kamar. Langsung menatap ranjang penggantinya, hatinya teriris. Asni merasa sangat tak pantas tidur di petiduran suci ini.

Mendadak tetapi, ia mendengar suara Mak.

Waktu mutakadim pagi rupanya.

Di dapur, ada Bibi Inah—sepupu Mak—yang akan mendukung mempersiapkan acara proyek. Melihat itu urung Asni menceritakannya. Mengaram Asni yang berdiri bertepatan berkhayal. Mak cenderung dan berbisik bahwa dayang yang akan makara raja sehari tak bisa banyak mengkhayalkan.

Gadis?
Aku enggak gadis pula, Mak.

Radu sarapan, Mak menyiapkan tikar pandan yang bogok di urat kayu petandang. Dulang-baki berilmu bolu koja sudah lalu tersuguh. Asni memandang raut roman Mak nan serupa itu bahagia. Pesanan merupakan sifat pemberian pihak maskulin kepada unggulan mempelai perempuan. Kebanyakan dalam susuk sembako, kelapa tua, rok yang bagus, ataupun bahkan cak semau nan menyertakan hewan piaraan di dalamnya. Dan tanggungan Jamal rupanya lain kepingin berlaku. Selain sembako, puluhan kelapa tua, sebonggol umbut kelapa, dan beberapa setel pakaian bagus, mereka pun membawa seekor sapi!

Betapa jemawanya Mak Asni. Sira mesem dengan muka agak kelam. Ah, janda nan tangguh itu, batin Asni, kau memang layak mendapatkannya, Mak. Mak mendekatinya. “Beruntung sekali kau mendapatkan Jamal, Nak,” bisiknya dengan musik gembira.

Asni mengangguk dan memaksakan bibirnya mesem. Hiruk pikuk keramaian membentuk perasaannya bertambah tak keruan. Ibu-ibu di desanya mulai berdatangan. Mereka membawa hudai yang isinya beras, kelapa, dan juga ayam aduan kampung. Mak start mempersilakan mereka untuk menikmati segala variasi bolu dan minuman di atas kenap prasmanan. Asni bukan henti menatap Mak dengan hati yang pilu. Sungguh kamu makin tak berani berterus-terang.

5

Pagi ijab kabul, nona bertubuh tambun menclok dengan sekotak besar instrumen rias momen beduk subuh lebih lagi belum ditabuh. Asni diminta mandi air rendaman mawar berma. Perempuan itu membaca mantra sebelum membalurkan wajah Asni dengan mawar-ros yang basah. Setelah Asni mengeringkan tubuhnya, ia duduk di depan bidang datar solek. Di hadapan cermin, ia merasa sangat cemar.

Juru solek itu tiba mengusap roman Asni dengan alas bedak. Sedikit demi sedikit, bedak itu lagi memadati wajahnya. Enggak lupa, gincu berma muda perias itu oleskan ke kedua bibirnya. Katanya, gesekan itu akan membuatnya lebih bergengsi. “Sira mirip seniman Ashanti!” juru solek itu memuji hasil pekerjaannya sendiri.

Jelang pengetuk delapan, Mak timbrung ke kamarnya tanpa mengetuk gapura. Ia menanyakan perias itu buat taajul mengamankan riasannya karena mempelai adam sejurus lagi tiba. “Cepetan, Mbul!” desak Mak. Asni cak hendak tertawa begitu menyadari kalau gadis yang meriasnya sanding dua jam itu dipanggil Gembul. Dengan bergegas, Gembul memakaikannya kebaya murni acuan dengan sanggul anak uang melati nan ditutupi dengan sandang putih membayang. “Semua gadis Lubukdian bermimpi dikawinin Jamal!” selorohnya sekali lalu merapikan kainnya. “Tapi … bagaimanapun … kalian memang padanan serasi, Asni!” Gembul tertawa, sebelum juga-lagi Mak menegur agar ia mempercepat pekerjaannya.

Yunior belaka Asni hendak bangkit dari amben rias, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Intan. Perasaan Asni tidak legit.

Asni, maafkan aku ya. Momen kau membaca pesanku ini, aku dan Bang Heri mutakadim berbenda di kurungan. Entah dengan kependekaran barang apa, aku melaporkan semua polah bejat Bang Heri, kepadamu dan aku. Semua bukti sudah kupersiapkan teragendakan komisi sogokannya kepadaku di hari kau diperkosanya.  Aku adalah bulan-bulanan yang tak belajar semenjak kecerobohanku di masa lampau. Maafkan aku, Asni, yang telah menjerumuskanmu.

Dada Asni bergemuruh. Rasa marah dan tawar hati menjadi satu hingga air matanya terban deras. Anda tak memedulikan Gembul yang menggerutu karena harus mendempul kembali bedak dan lipstik.  Juru solek itu menasihati Asni bakal menahan perasaan harunya seyogiannya riasannya tahan lama.

Penghulu sekali lagi memanggilnya. Asni gugup. Jamal memandangnya. Cak semau ribang di matanya. Asni bintang sartan salah tingkah. Ijab-kabul pun dilangsungkan dengan pamannya yang main-main sebagai wali nikah.

Protokoler!

Asni terkesiap.

Suara Alhamdulillah bergeremengan.

Jamal menyematkan ring di jarinya tinggal menyundak keningnya.

6

Di kamarnya, Mak mengantar sesepuh rasam yang mengangkut sebilah keris ke kamarnya. Tanpa berkata sepatah pembukaan pun, suami-laki berikat kepala kain hitam itu meletakkan senjata keramat itu di dasar ranjang pengantinnya.

Asni bergidik. Ia kepingin bertanya tapi batu Mak membuatnya doang bisa menggasak liur. “Mak yakin kau masih perawan,” katanya lirih. “Pastikan kau bukan mengacaukan segalanya, Nak.”

Asni senggang, Mak lain kuasa menolak antaran nan nilainya sangat besar itu. Itu juga sebagai tanda bahwa mempelai laki-laki berwajib menggunakan keris keramat Lubukdian sebagai episode dari “upacara” lilin batik pengantin.

7

Malam itu Asni dan Jamal akan takhlik album hijau laksana pemuda-gadis yang akan menjalani kehidupan bersama nan absah. Jamal memegang tangan Asni nan doang duduk bidang datar riasnya. Rasa rindu bergemuruh di dadanya. Pundak Asni bergonjang. Ia bukan dapat membendung air matanya. Jamal pun penasaran. Jamal mengguncang-goyah pundaknya. Asni makin tersedu-isak.

Jamal menginjak emosi. Ia yakin, itu bukan pun air ain bahagia. Jamal mendesaknya untuk berbicara.

Asni meruntun berasimilasi panjang. Sangat pecah bibirnya bersirkulasi kisahan kelam itu. Jamal menjauhi Asni seakan-akan Asni adalah benda haram yang mengandung petaka. Ia mondar-mandir di dalam kamar seraya meremas-remas rambutnya. Diobrak-abriknya hiasan di petiduran pengantin mereka. Asni menangis. “Maafkan aku, Kak,” pengenalan Asni seraya mendekat, tapi Jamal apalagi mendorongnya hingga beliau terjerembab di kolong peraduan.

 Beberapa saat kemudian, tangannya mutakadim memegang sebilah keris. “Kau ingin menunjukkan ini kepada Mak, Kak?” Ya, Asni hafal sekali adat di Lubukdian. Apabila keris itu diserahkan kepada ayah bunda pengantin gadis, pertanda merapulai cewek telah tidak perawan lagi sebelum ijab kabul.

Jamal ingin meraih keris itu, tapi Asni mengelak.

“Aku tidak wanita sonder harta dan hak!” suara Asni tertahan.

“Aku sudah membeli dagangan rongsokan dan sekarang kau banyak tingkah juga!” Jamal makin geram.

Di luar, Mak Asni dan ibu-ibu dari keluarganya mendekatkan telinga mereka di daun bab. Bunyi ranjang yang berderat-derit dan suasana kamar yang kacau mereka anggap seumpama api membara sepasang pengantin nan memang elusif dikendalikan. Tawa-tawa nakal tersemat di bibir mereka. Sampai … jerit strata dari Asni dan Jamal dari kerumahtanggaan kamar membuat mereka refleks berteriak. Ah, adakah yang bertambah menggairahkan tinimbang melepas segalanya di malam purwa?

Musirawas, 22 September 2022




Source: https://basabasi.co/tujuh-babak-cerita-jelang-malam-pertama/

Posted by: itugas.com