Artikel Ilmiah Pembuatan Media Pembelajaran Sd

Media Pembelajaran Sekolah Sumber akar

Disusun untuk memenuhi
tugas mata Kuliah Komputer Penelaahan SD

Disusun Maka itu :
Siti Musyarofah Cerah Halimah (201533242)
Papan bawah : E
Dosen :Himmatul Ulya,Sp.d,M.pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH Asal FAKULTAS KEGURUAN DAN Didaktik UVERSITAS MURIA Ikhlas
2022
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji untuk Almalik SWT Tuhan seberinda alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah Saw. Penulis bersyukur kepada Illahi Rabbi nan mutakadim memberikan rahmat serta taufik-Nya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul ” Alat angkut Pembelajaran SD” boleh terselesaikan.
Mengenai tujuan panitera membuat makalah ini adalah bikin memenuhi tugas mata kuliah Komputer Pendedahan Sekolah Radiks. Dalam penyelesaian makalah ini carik mengalami hambatan tahun dan keterbatasan manifesto serta mangsa wacana yang dapat dijadikan acuan. Doang,bernasib baik uluran tangan berbagai pihak, akhirnya makalah ini bisa pencatat selesaikan. Penulis mengucapakan syukur kepada :
1. Himmatul Ulya,S.pd,M.pd. selaku dosen mata pidato Komputer Pembelajaran Sekolah Dasar
2. Ayah bunda panitera yang selalu menzikirkan dan memberi dukungan
3. N antipoda-padanan papan bawah E
Sebagaimana kata peribahasa,tiada gading yang tak retak,penyadur mengingat-ingat bahwa kertas kerja ini masih jauh bersumber sempurna dan masih punya banyak kesuntukan. Apalagi kenyataan penulis sekali lagi masih belum seberapa tentang peristiwa nan dibahas n domestik referat ini. Maka itu karena itu,kritik dan saran yang positif silam penulis harapkan hendaknya makalah ini menjadi kian baik lagi.
Masif,15 Maret 2022

Penulis

DAFTAR ISI
Pengenalan Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
Pintu II PEMBAHASAN 3
A. Denotasi Media Pembelajaran 3
B. Analisis Penggunaan Media 4
1. Fungsi Media Pembelajaran 4
2. Manfaat Eksploitasi Wahana Pendedahan 5
C. Jenis-Jenis Media Penelaahan 6
D. Kamil-contoh Wahana Pembelajaran 7
E. Prosedur Seleksi Media Pembelajaran 11
F. Kriteria Pemilihan Media Pengajian pengkajian 11
G. Prinsip Pendayagunaan Alat angkut Pembelajaran 12
H. Kelebihan dan Kekurangan Kendaraan Penataran 14
Pintu III Intiha ………………………………………………………… 16
Simpulan 16 Saran 16
Daftar bacaan 17

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puas hakikatnya kegiatan sparing mengajar yakni suatu proses komunikasi. Proses komunikasi (penguraian pesan) harus diciptakan maupun diwujudkan melalui kegiatan presentasi dan silih-mengganti pesan atau permakluman oleh setiap guru dan siswa jaga. Melewati proses komunikasi, pesan ataupun siaran dapat diserap oleh anak adam lain. Lakukan memudahkan proses komunikasi, komunikator dapat menggunakan majemuk media umpama sarananya. Media yaitu salah satu sarana komunikasi yang bisa digunakan oleh setiap hamba allah, tersurat pendidik yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.
Wahana memiliki cakupan nan sangat luas. Sekadar, pada penggalan ini hanya media pembelajaran saja nan menjadi kajiannya. National Education Association (NEA) dalam Sadiman, (2009) menyebutkan bahwa sarana merupakan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Sadiman (2009: 7) sendiri menamakan bahwa media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengempoh wanti-wanti dari pengirim ke pemeroleh sehingga dapat semok perasaan, pikiran, perasaan, dan minat serta perhatian peserta sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Dalam konteks komunikasi, sendiri pendidik maupun master memerlukan wahana sebagai alat bantu untuk memudahkan seorang guru mengomunikasikan pesan aktual materi pelajaran kepada peserta dengan harapan proses komunikasi boleh melanglang baik dan arketipe sehingga siswa bisa mengakui pesan nan benar tanpa ada kesalahan. Oleh karena itu, peran media lampau berharga dalam proses pembelajaran karena pengusahaan media dapat memudahkan siswa memahami materi yang disampaikan oleh koteng guru. Namun, koteng guru sekali lagi harus mewah
memilih, mendesain, dan menampilkan alat angkut sesuai dengan kronologi seorang anak asuh dan dapat membuat anak asuh merasa nyaman ketika mengikuti proses penataran.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Media Pembelajaran?
2. Bagaimana Analisis Pendayagunaan Media?
3. Apa saja Jenis-jenis Wahana Pembelajaran?
4. Bagaimana Contoh Media Pembelajaran di SD?
5. Bagaimana Prosedur Pemilihan Kendaraan Pendedahan?
6. Bagaimana Kriteria Seleksi Media Pembelajaran di SD?
7. Bagaimana Kaidah Penggunaan Wahana Pembelajaran di SD??

C. Intensi
1. Dapat Mrngetahui Signifikasi Media Pembelajaran.
2. Mampu Analisis Pemakaian Media.
3. Dapat Mengarifi dan Menyebutkan Jenis-jenis Media Penerimaan.
4. Menamakan Contoh Sarana Pembelajaran di SD.
5. Memaklumi Prosedur Pemilahan Media Pendedahan.
6. Dapat Memahami Kriteria Penyaringan Alat angkut Penataran di SD.
7. Memaklumi Prinsip Pendayagunaan Media Penataran di SD.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kendaraan Pendedahan
Pengenalan alat angkut merupakan rencana jamak dari ‘Medium’, nan secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Bilang ahli memberikan definisi mengenai kendaraan pembelajaran. Schramm (1977) mencadangkan bahwa media penerimaan adalah teknologi pengarak wanti-wanti yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Secara unik, kata tersebut dapat diartikan sebagai alat komunikasi nan digunakan untuk mengapalkan informasi bersumber satu sumber kepada penyambut. Dikaitkan dengan pembelajaran, ki alat dimaknai misal alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mengapalkan kenyataan faktual materi ajar berpunca penyuluh kepada petatar didik sehingga pesuluh didik menjadi lebih terjerumus buat mengikuti kegiatan pembelajaran.
Menurut Donald P. Ely & Vernon S. Gerlach dalam Rohani (1997:2), signifikansi kendaraan ada dua, yaitu kepentingan sempit dan arti luas. (a) Arti sempit, ki alat itu berwujud grafik, foto, alat mekanik, dan elektronik nan digunakan lakukan menangkap, memproses, serta menyampaikan siaran. (b) Arti luas, yaitu kegiatan yang dapat menciptakan suatu kondisi, sehingga memungkinkan siswa asuh boleh memperoleh siaran, keterampilan, dan sikap yang bau kencur.
Sementara itu, Briggs dalam Sadiman (2009) berpendapat bahwa media yaitu segala peranti badan nan boleh menyuguhkan pesan serta seksi siswa untuk belajar. Schramm (dalam Sudrajat, 2008) mengemukakan bahwa media penelaahan merupakan teknologi pengiring pesan nan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Mulai sejak ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa ki alat pembelajaran yaitu segala sesuatu nan dapat mengairi pesan, dapat seronok pikiran, perasaan, dan keinginan pesuluh didik sehingga boleh mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta tuntun.
B. Analisis Pemanfaatan Kendaraan
Setiap media yang digunakan internal pembelajaran tentunya bukan bawah-asalan, hanya perlu pertimbangan kesesuaiannya. Kesesuaian pengusahaan wahana dapat dilihat dari segi materi pelajaran yang diajarkan. Pembelajaran bahasa Indonesia di SD merupakan keadaan yang memubutuhkan ketelatenan yang asing biasa dari sendiri guru, tercantum dalam melembarkan media pengajian pengkajian. Kesesuain penyortiran media akan berbuah positif bagi pembelajaran.
Kerjakan belajar puisi misalnya suhu boleh memilih media audio-visual seperti mana VCD, seperti itu sekali lagi berlatih menulis cerpen guru dapat menggunakan media rang baik yang bergerak ataupun nan diam.
1. Kelebihan Media PembelajaranMedia pembelajaran ialah peranti pendukung terlaksananya kreativitas belajar mengajar dalam upaya kelancaran proses belajar dengan hal nan kondusif. Tentang kesadaran peserta didik dengan media mempunyai keefektifan:
a. Pendayagunaan media n domestik proses belajar mengajar enggak merupakan kemustajaban suplemen. Hanya, berfungsi bak alat sokong buat mewujudkan situasi membiasakan mengajar yang efektif.
b. Penggunaan ki alat pengajaran tidak merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
c. Media kerumahtanggaan pengajaran sifatnya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
d. Pemanfaatan media dalam pengajaran bukan hanya sebagai hiburan yang digunakan hanya sekedar bagi melengkapi proses sparing meski kian menarik perhatian murid.
e. Penggunaan media lebih diutamakan bikin membangatkan proses belajar mengajar dan membantu pelajar internal memahami materi nan diberikan suhu.
f. Eksploitasi wahana dalam pengajaran diutamakan bakal mempertinggi dur belajar mengajar.
Selanjutnya, Djamarah (2006:122) bahwa media penelaahan sebagai alat bantu pembelajaran yang berfungsi melicinkan kronologi menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan alat bantuk enggak bisa digunakan sembarangan menurut karsa hati guru intern upaya pelaksanaan pengajian pengkajian berlangsung ketika aktivitas pembelajaran dirungan kelas bawah. Belaka, harus memperhatikan dan merefleksikan karakteristik peserta bimbing agar tercapainya pamrih pengajian pengkajian.
2. Guna Penggunaan Media Pembelajaran
Sarana mempunyai peranan penting privat proses pendedahan di sekolah bagaikan perlengkapan peluasan wawasan anak nan mengedrop prinsip berpikir faktual dalam kegiatan berlatih mengajar dengan memahami kondisi kognitif siswa, harapan , metode, dan kelengkapan alat bantu.
Fathurrohman (2009) membagi gambaran makin detail bermula manfaat penggunaan kendaraan intern proses pendedahan, (a) Menarik perhatian pesuluh, (b) Kondusif bagi mempercepat kognisi, (b) Memperjelas penyajian pesan seyogiannya lain bersifat verbalistis (dalam tulang beragangan pembukaan – pengenalan termasuk atau oral), (c) Mengatasi keterbatasan ruang, (d) Pembelajaran lebih komunikatif dan kreatif, (e) Waktu pendedahan bisa dikondisikan, (f) Menghilangkan kebosanan pada siswa dan meningkatkan motivasi peserta.
Oleh karena itu, penggunaan media moga enggak asal-asalan untuk pengembangan minat sparing anak. Namun, seleksi media boleh memperjelas petatar berpikir positif sebelum mampu berpikir dalam-dalam khayali sehingga situasi dan kondisi momongan didik nan akan mengikuti pelajaran adapun jumlahnya, cambuk, dan kegairahannya dalam upaya tercapainya tujuan pembelajaran.
Mustikasari (2008) mengatakan (a) Penyampaian materi pendedahan boleh diseragamkan, (b) Proses penelaahan menjadi bertambah jelas dan menjajarkan, (c) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, (d) Efisiensi dalam tahun dan tenaga, (e) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, (d) Wahana memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana belaka dan kapan namun, (f) Sarana dapat menumbuhkan sikap berwujud siswa terhadap materi dan proses belajar, dan (g) Mengubah peran guru ke arah nan lebih positif dan berpunya
Dengan demikian, alat angkut penerimaan seharusnya bermakna bagi anak jaga dengan isinya relevan dengan kurikulum yang bermain disekolah tersebut meliputi apakah dengan mengunakan alat angkut tersebut dapat diserap maka itu anak asuh didik dengan optimal serta penyampaian tak asing untuk anak asuh didik sehingga efektif privat pencapaian alhasil kerumahtanggaan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor anak asuh.

C. Jenis-tipe Media Pembelajaran
Secara umum, media bercirikan tiga unsur kiat, yaitu: auditif, visual, dan gerak. Selain itu, sarana juga diklasifikasikan berdasarkan sudut pandang yang dilihat, yaitu:
a. Dilihat berasal sifatnya, kendaraan terdiri atas alat angkut auditif, alat angkut visual dan media pandang dengar.
b. Dilihat dari kemampuan jangkauannya, wahana terbagi atas; (a). Media yang mempunyai daya liput nan luas dan sekaligus seperti televisi dan radio. (b). Media yang memiliki daya liput nan sedikit oleh pangsa dan waktu, sama dengan film, slides, video dan lainnya.
c. Dilihat dari cara alias teknik pemakaiannya, terdiri; (a). Wahana yang diproyeksikan seperti komidi gambar, slide, bioskop strip, transparasi dan lainnya. (b). Media yang tidak diproyeksikan, seperti mana gambar, foto, lukisan, radio dan lainnya.

Rudy Brets (dalam Sudrajat, 2008), mengidentifikasi ada tujuh klasifikasi ki alat, (1). Media audio okuler gerak, seperti mana: film suara, pita video, film tv, (2). Media audio okuler diam, seperti: sinema rangkai suara, jerambah suara miring,dan sebagainya, (3). Audio recup gerak, seperti: tulisan jauh berfirman, (4). Media visual bergerak, seperti: film bisu, (5). Media okuler diam, seperti: halaman cetak, foto, microphone, slide gagu, (6). Sarana audio, seperti: radio, telepon, ban audio, (7). Media cetak, seperti: gerendel, modul, bahan tuntun mandiri.

D. Contoh-contoh Media Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru laksana pemegang peranan utama. Proses pengajian pengkajian banyak berakar sreg berbagai rukyah dan konsep serta perwujudan proses itu koteng dapat terjadi dalam berbagai komplet. Maka berpokok itu kerjakan menumbuk proses pembelajaran yang efektif dan efisien diperlukan media atau peranti peraga kiranya siswa dapat memafhumi materi pelajaran yang diberikan makanya guru. Mengingat seperti itu pentingnya perangkat peraga sreg proses sparing, maka guru berperan penting dalam memanfaatkan media dan mata air membiasakan tersebut.Misalnya,
1. Permainan Congklak atau Dakon sebagai sarana pembelajaran matematika untuk anak khususnya pada anak SD.
Permainan dalam penataran ilmu hitung disekolah bukan cak bagi membeningkan melainkan satu cara atau tehnik buat mempelajari atau membina ketrampilan dari satu materi tertentu.
Secara umum cocok untuk kontributif mempelajari fakta dan ketrampilan. Beberapa ahli pendidikan mengatakan bahwa intensi utama digunakan permainan privat penataran matematika adalah bikin memasrahkan senawat kepada murid agar menjadi senang. Apabila master berniat merencanakan kegiatan permainan matematika kerumahtanggaan penataran, maka guru terlazim mengkaji topik yang tepat bakal kegiatan yang didukung oleh permainan. Dari hasil kajian tersebut guru boleh memintal atau mengenali permainan nan berujud meningkatkan kesigapan matematika dan digunakan internal waktu serta situasi yang tepat.
Alat peraga permainan congklak bisa digunakan siswa untuk memahami operasi hitung seperti penjumlahan, penyunatan, pergandaan dan pendistribusian. Misalnya permainan congklak kita gunakan sebagai peranti peraga cak bagi menguraikan konsep perkalian (x) dan pendistribusian (:). Konsep pemahaman perkalian dan pendistribusian dasar mulai diajarkan di kelas tematik Sekolah Pangkal. momen lega masa SD, kebanyakan para murid diminta untuk menghafalkan perkalian, mulai dari perkalian 1 sebatas multiplikasi 10. Dimana sebelumnya guru mutakadim mengasihkan tabel perbanyakan dan pencatuan sreg pelajar. Hal ini dilakukan buat mempersingkat dan mengacapkan pendedahan sonder terbengkil-bengkil. Sebagaimana dengan pembagian, master tetapi memberitahukan bahwa pengalokasian merupakan kebalikan bermula perkalian atau sebaliknya.

Gambar 1.1 Gambar 2.1

Konsep Perkalian (x) adalah pembilangan tautologis-ulang, artinya suatu bilangan bila dijumlahkan dengan kadar itu sendiri secara berulang-ulang maka akan menghasilkan usaha hitung bau kencur yang berupa perkalian, lengkap: 2+2+2+2+2=10, artinya angka 2 dijumlahkan dengan bilangan itu sendiri sebanyak lima kali maka kesannya 10, maka kodrat perkaliannya ialah : 5×2=10, sehingga : 2+2+2+2+2=5×2, hasilnya 10.
Konsep Pembagian (:) merupakan kebalikan bermula perkalian, tetapi pada penyajian kepada siswa tidak bisa disampaikan serentak bahwa pencatuan adalah imbangan perbanyakan, tetapi harus mengarifi dulu bagaimana pembagian itu bisa terjadi. Penjatahan adalah pengurangan satu predestinasi dengan bilangan lain secara berulang-ulang hingga habis. Contoh : 10–2–2–2–2–2=0, artinya bilangan 10 dikurangi 2 sebanyak 5 kali, maka bilangan matematikanya adalah 10:2=5 (sepuluh dibagi dua sama dengan lima). Seandainya kita miring dengan perkalian 5×2=10 (lima kali dua seperti sepuluh). Sudahlah, disinilah maka konsep perkalian dan pembagian dapat sedikit dimengerti maka dari itu petatar.
Dengan konsep teori diatas minus dipraktekan dengan hal yang konkrit maka petatar akan merodong kesulitan, apalagi bila sudah mencakup ketentuan kian semenjak 10. Akan hanya, dengan instrumen permainan congklak atau congklak minimal siswa bukan hanya mengerti dan hafal saja tetapi lebih berusul itu siswa akan bisa dan lebih sadar. Puas prinsipnya, mendengar saja enggak cukup, karena karuan akan mudah lupa, semacam itu pun jika sekadar melihat dan mendengar, siswa semata-mata hafal tapi belum pasti bisa mengerjakan, akan tetapi jikalau siswa melihat, mendengar dan melakukan maka besar peluang siswa akan bisa dan lebih ingat.
Contoh tak berpunca permainan congklak sebagai media pembelajaran matematika, misalnya anda bisa mengajarkan anak berlatih berhitung dengan mengajak buah hati Anda bermain congklak. Pada kayu congklak terwalak 14 lobang terdiri pecah 7 lobang dihadapan Dia dan 7 lobang dihadapan anak Dia. Jika menunggangi 7 lobang pasang, maka tiap lobang diisi dengan 7 biji cokar. Bintang sartan total biji cokar yang digunakan adalah besaran lobang imbangan kali dua kali jumlah masing-masing poin congklak (contoh: 7x2x7=98 biji congklak). Peristiwa ini boleh Engkau praktekan kapan bermain dakon bersama anak Dia.
Misalnya begini,Nak ayo kita isi lobangnya, ada sapta lobang, 1,2,3,4,5,6,7. Coba hitung nak, cak semau berapa jumlah semuanya? (7+7=14). Ada 2 lobang masing-masing ada 7 skor cokar, jadi semuanya ada berapa? (2×7=14). Oya nak, dia memiliki 14 biji, kita bagi 7 mari! Bintang sartan cukup lakukan berapa lobang nak? Oh… buat 2 lobang pak (14:7=2).
Dengan adanya permainan congklak, anak-anak asuh akan medapatkan kian manfaatnya. Selain umpama perlengkapan peraga pembelajaran matematika, permainan congklak secara tidak sekalian menyumbang kegiatan jasmani adaptif momongan, yaitu melatih motorik halus. Ketika momongan memindahkan poin cokar bermula satu lobang ke lobang lain, maka mereka melatih motorik halus mereka.
Apapun strategi penataran matematika dalam bentuk permainan hawa perlu mengenali topik-topik yang memerlukan pembinaan ketrampilan khusus, misalnya fakta dasar pencacahan ataupun perkalian, menentukan tujuan pembelajaran secara jelas, merencanakan kegiatan secara rinci seperti rancangan permainan, sarana, dan evaluasi.

2. pembuatan alat peraga IPA

Gambar 2.1
a. Adapun prosedur atau cara pembuatan alat peraga Ideal Pernapasan pada basyar yaitu perumpamaan berikut :
1. Sediakan Alat dan bahan yang dibutuhkan ( Botol bekas air mineral, 2 ( dua ) Sedotan pelastik wadah, Sumbat plastik, Korek api, Reja kerokot, Solasiban / lakban, 3 ( tiga ) buah balon karet ).
2. Gunting bagian bawah botol tamatan air mineral sesuai yang di inginkan atau kurang bertambah sekitar seperempat babak dari jambangan tersebut.
3. Untuk gudu-gudu bercagak tiga dari pipet plastik
4. Sumbat kedua cagak pipa menggunakan balon karet yang kemudian di taris oleh tiras bilang-bilang, supaya tak terlepas. ( salah satu silang misal palagan celas-celus gegana )
5. Sangat satu balon nan tersisa, kemudian gunting balon tiras tersebut dibagian mulutnya.
6. Pemerolehan pipa cabang yang sudah disumbat oleh balon ke dalam vas eks nan telah kita gunting, dimana salah suatu pipa yang bukan disumbat diletaka kan menjorok ke atas ( ke babak mulut pot )
7. Tutup bagian atas vas dengan sumpal plastik nan sudah diberi terowongan sepatutnya hokah nan menjorok ke mulut botol dapat keluar bagaikan jalan timbrung udara .
8. Tutup fragmen pangkal botol dengan balon perca yang telah dipotong bagian mulutnya, kemudian ikat menunggangi karet / lakban ( solasiban ).
9. Takdirnya telah menempel, perabot peraga sudah siap cak bagi digunakan.
10. Rendah lebih bentuknya akan seperti gambar di bawah ini.

E. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran
Setiap media penelaahan mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya, alias cara penggunaannya. Mencerna berbagai karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru kerumahtanggaan kegiatannya dengan kecekatan pemilahan media pengajaran.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (privat Fathurrohman, 2009), bahwa wahana diperlukan bilang patokan, adalah; a) ketepatannya dengan tujuan pengajaran, ialah alat angkut pengajaran dipilih bersendikan maksud – tujuan instruktional nan sudah lalu ditetapkan, b) dukungan terhadap isi bahan pelajaran, merupakan bahan les nan sifatnya fakta, cara, konsep dan penyamarataan adv amat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami peserta, c) kemudahan memperoleh kendaraan, di mana media yang diperlukan mudah didapatkan dan mudah dibuat oleh guru plong waktu temperatur mengajar, d) keterampilan suhu dalam menggunakan berbagai spesies media intern proses pengajaran dahulu diperlukan, dan e) memintal kendaraan harus sesuai dengan taraf berpikir siswa, di mana internal menyajikan grafik yang berbentuk data atau angka harus ditampilkan kerumahtanggaan bagan gambar ataupun poster, sebagaimana kerumahtanggaan menyajikan diagram.
Maka dari itu karena itu, standar penyortiran media nan efektif dan efisien serta menyenangkan pasti menjadi dambaan dan kebutuhan untuk pembelajaran, lakukan mendapatkan media tersebut diperlukan beberapa prinsip nan perlu diperhatikan di antaranya dalam pemilahan media sehingga dapat digunakan kerumahtanggaan semua situasi, semua karakteristik siswa dan semua mata pelajaran. Namun, kendaraan sifatnya kondisional dan kontekstual sesuai serta media pembelajaran bisa memecahkan keterbatasan asam garam yang dimiliki para petatar yang disajikan dapat melalui batasan ruang kelas.

F. Prinsip Pemakaian Media Pengajian pengkajian
Penggunaan alat angkut pada setiap kegiatan penataran terbiasa diperhatikan prinsip siasat, di mana diharapkan media yang digunakan dapat mengarahkan siswa dan memudahkannya dalam mengerti materi pelajaran. Dengan kata tak, media yang digunakan harus dipandang bermula sudut kebutuhan siswa bukan kepentingan guru saja.
Menurut Sanjaya (2010) ada sejumlah prinsip pokok nan harus diperhatikan privat pemanfaatan alat angkut, yaitu; (a) sarana nan akan digunakan maka dari itu guru harus sesuai dan diarahkan untuk mencapai harapan pembelajaran, (b) kendaraan yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran, (c) media penerimaan harus sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kondisi siswa, (d) kendaraan yang digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien, (e) sarana yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan guru dalam mengoperasikannya.
Riana (2010: 5) mengatakan ada tiga tahap utama, yaitu: (1) Define yakni fase perumusan harapan, rancangan sarana apa yang akan dikembangkan. (2) Develope yaitu fase pengembangan sesuai dengan fase mula-mula dan (3) Evaluasi yakni fase terakhir untuk menilai wahana yang mutakadim dikembangkan.
Dengan demikian, perancang media seyogyanya mengupas tiga tahap utama sebelum digunakan untuk pencapaian tujuan pembelajaran internal interaksi dengan siswa, yaitu:
a) Define (pemagaran), internal fase ini menyangkut rumusan tujuan, buram media apa yang akan dikembangkan, bilang anju awal dalam perancangan wahana nan menyangkut: objek, materi, dana, serta aspek perancangan lainnya.
b) Develop (pengembangan), dalam fase ini sudah dimulai proses pembuatan sarana yang akan dikembangkan, sesuai dengan fase pertama.
c) Evaluation (evaluasi), ialah fase bungsu lakukan membiji wahana yang sudah dikembangka/dibuat, sesudah melampaui tahap uji coba, revisi, kajian dengan pihak lain. Buat kemudian direproduksi media dalam bagan enggak.

Kriteria nan paling utama dalam penyaringan media bahwa ki alat harus disesuaikan dengan tujuan penelaahan atau kompetensi nan kepingin dicapai.
Abstrak instrumen media pembelajaran di SD
No. Kategori Jenis Penggunaan Kesiapan
1. Audio Radio Penerimaan bahasa Indonesia Cak semau
2. Visual gambar, foto, Setiap ain pelajaran Ada
3. Audio-visual Televisi Pengajian pengkajian bahasa dan sains Ada
4. dll.

G. Kelebihan dan Kekurangan Wahana Pembelajaran
Kendatipun dalam penggunaannya jenis-jenis teknologi dan media lalu dibutuhkan temperatur dan pelajar n domestik membantu kegiatan pembelajaran, sekadar secara awam terletak bilang kelebihan dan kelemahan dalam penggunaannya.
Diantara kelebihan alias kegunaan kendaraan pembelajaran yaitu:
1. Memperjelas penyajian pembelajaran enggak bersisa bersifat verbalistis( internal bentuk perkenalan awal-prolog, tertera atau lisan doang).
2. Memintasi perbatasan ruang, waktu dan sendi indera, begitu juga:
a. Objek yang berlebih osean digantikan dengan realitas, tulang beragangan, filmbingkai, film maupun model.
b. Obyek yang kerdil dibantu dengan proyektor micro, film pigura, komidi gambar maupun rajah.
c. Gerak yang terlalu lambat maupun terlalu cepat dapat dibantu dengan tame lapse atau high speed photografi.
d. Hal atau peristiwa nan terjadi waktu lalu bisa ditampilkan sekali lagi lewat rekaman bioskop,video, film lis, foto maupun secara verbal.
e. Obyek yang berlebih kompleks (mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, tabulasi, dll.
f. Konsep yang bersisa luas (gunung ber api, gempa bumi, iklim dll) bisa di visualkan dalam bentuk film,film bingkai, rajah,dll.
3. Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan berbagai rupa sifat pasif momongan didik bisa diatasi. Kerumahtanggaan hal ini wahana pendedahan berjasa bakal:
a. Menimbulkan kegairahan belajar.
b. Memungkinkan interaksi yang kian sekaligus antara anak didik dengan mileu dan kenyataan.
c. Memungkinkan anak jaga sparing sendiri-sendiri sesuai kemampuan dan minat masing-masing.
4. Dengan sifat yang unik sreg tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan asam garam yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama bagi setiap siswa,maka hawa akan mengalami kesulitan. Semuanya itu harus diatasi sendiri. Apalagi bila permukaan belakang hawa dan siswa juga berlainan.Komplikasi ini lagi bisa diatasi dengan media yang berbeda dengan kemempuan privat:
a. Menerimakan perangsang yang sama.
b. Mempersamakan pengalaman
c. Menimbulkan persepsi nan setimpal.
Ada beberapa kelemahan sehubungan dengan aksi pencekokan pendoktrinan visual anatar lain terlalu mengistimewakan bahan-bahan visualnya seorang dengan tidak menghirukan kegiatan-kegiatan lain nan berhubungan dengan desain,ekspansi,produksi, evaluasi, dan pengelolaan alamat-korban visual. Disamping itu pula mangsa visual dipandang bagaikan alat bantu satu-satunya bagi guru internal proses pendedahan sehingga keterpaduan antara target pelajaran dan alat tolong tersebut diabaikan.
Kelemahan audio visual:bersisa menekankan pada penguasaan materi dari pada proses pengembangannya dan konstan memandang materi audio visual sebagai alat Bantu guru dalam proses pembelajaran.

BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Dalam satu proses belajar mengajar, terserah unsur yang amat penting yakni media penerimaan. Pemilahan media pengajian pengkajian tertentu akan mempengaruhi jenis ki alat penerimaan yang sesuai, meskipun masih ada heterogen aspek lain yang harus diperhatikan privat memilih sarana.
Kendaraan mempunyai manfaat dan arti sebagai sarana cak bagi suhu buat dapat menyampaikan materi pelajaran menjadi lebih menggelandang, tidak belaka monoton, petatar enggak sahaja diajak untuk berhayal dan membayangkan saja belaka pesuluh dapat meluluk siaran walaupun namun melampaui buram ataupun video.
Media n kepunyaan peran terdahulu kerumahtanggaan suatu proses pembelajaran, di mana secara awam media bercirikan tiga anasir pokok, adalah: auditif, optis, dan gerak, sehingga terbit uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Media memiliki peran sebagai alat bantu untuk takhlik keadaan belajar mengajar yang efektif.
2. Pemanfaatan media indoktrinasi tidak merupakan bagian yang koheren berasal keseluruhan situasi mengajar.
3. Kriteria yang minimum penting dalam seleksi media bahwa media harus disesuaikan dengan intensi pembelajaran atau kompetensi nan ingin dicapai.
4. Diharapkan ki alat nan digunakan dapat mengarahkan siswa dan memudahkan kerumahtanggaan mengetahui materi tutorial.

B. Saran
Sepatutnya internal penulisan makalah ini,kita dapat mengarifi lebih khusyuk mengenai Media Penerimaan SD,Situasi ini lampau Berfaedah diketahui dan dipelajari khususnya seumpama calon hawa,bagaikan bekal masa depan khususnya guru PGSD.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Saiful Bahri. dkk. 2006. Strategi Berlatih Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Fathurrohman, Pupuh dan M. Sobri Sutikno. 2009. Politik Belajar Mengajar Melangkaui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami. Bandung: P.T Refika Aditama

Helipriyanto, Donni. 1999. Pembukaan dan Pemilihan Ki alat Penerimaan. [Online]. Tersedia: http://www.jurnalpariwisata.com/files /jurnal042/ {8 Oktober 2010}

Mustikasari, Ardiani. 2008. Edu-Artikel: Mengenal Media Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://edu-articles.com/mengenal-media-pembelajaran/ {8 Oktober 2010}

Riana, Cepi. 2010. Media Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://searchpdf.com/search.php-search-media-pembelajaran. {8 Oktober 2010}

Rohani, Ahmad. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Sadiman, Arief S. dkk. 2009. Media pendidikan signifikasi, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

[http://permainandakon.blogspot.com], [http://guraru.org] Sundayana, Rustina. 2022. Media Pendedahan Matematika (untuk guru, nomine guru, orangtua, dan para pecinta ilmu hitung). Bandung : ALFABETA
Arsyad, Ashar. 2002. Media Penerimaan. Jakarta : PT Prabu Grafindo Persada
Sumiati, dkk. 2009. Metode Pengajian pengkajian. Bandung : CV Wahana Prima
Matematika,
http :// www.slideshare.kisa/erossansen/tugas-makalah-media-pembela,

Source: https://karyatulisilmiah.com/media-pembelajaran-sekolah-dasar/